Kontroversi Terbesar Dalam Sejarah Piala Dunia

Sheikh “Fahad Al-Ahmad Al-Sabah” menolak sebuah gol (Prancis vs Kuwait – 1982)

Salah satu kontroversi paling berkesan seputar Piala Dunia adalah pertandingan antara Kuwait dan Prancis di Piala Dunia 1982 yang diselenggarakan di Spanyol. Saat menjalani satu-satunya penampilan mereka di ajang sepak bola terbesar ini, Kuwait dimasukkan ke dalam kelompok yang berisikan Inggris, Prancis dan Cekoslowakia dan diperkirakan tidak akan memenangkan apapun. Tetapi setelah berhasil bermain imbang dengan skor 1-1 kontra Cekoslowakia, Kuwait maju menghadapi Prancis.

Fahad Al-Ahmad Al-SabahSheikh Fahad Al-Ahmad Al-Sabah selaku presiden Asosiasi Sepak Bola Kuwait – meninggalkan kursinya dari tribun dan masuk ke lapangan, menyingkirkan pemainnya dari lapangan untuk memprotes gol tim Prancis yang dia yakin telah mencetak gol hanya setelah pemainnya sempat mendengar peluit ditiup dari tribun dan berhenti bermain. Wasit pertandingan, Miroslav Stupar dari Ukraina, terbaring dalam sorotan dan membalikkan keputusan awal – menolak gol itu. Tim Prancis masih memenangi pertandingan tersebut dengan skor 4-1.

Pertandingan sengit antara Belanda vs Portugal – 2006

Pertandingan di Piala Dunia akan dianggap membosankan dari biasanya saat tim besar saling berhadapan, namun dalam babak 16 besar di Piala Dunia 2006 (Jerman), hal ini benar-benar diluar kendali. Yang mungkin membuat ini semakin mengejutkan adalah fakta dibalik Portugal dan Belanda yang saling berjibaku diatas lapangan hijau – dua sisi yang dikenal sangat agresif. Namun sejak awal pertandingan, wasit asal Rusia – Valentin Ivanov menggila dikarenakan ia terpaksa mengganjarkan 4 kartu merah dan 16 kartu kuning yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pertandingan sengit antara Belanda vs Portugal – 2006Semua dimulai saat Marco Van Basten mencetak gol pada menit ke-2 dan pertandingan mulai memanas karena pemain legendaris Portugal saat itu – Luis Figo hanya mendapatkan kartu kuning karena menyundul salah satu bek Belanda – yang seharusnya diberikan kartu merah dibawah peraturan FIFA. Portugal akhirnya memenangi pertandingan dengan skor 1-0.

Peru membantu Argentina untuk mengalahkan Brazil (Peru vs Argentina – 1978)

Kembali ke Piala Dunia 1978 (di Argentina), turnamen berlanjut ke putaran kedua yang terdiri dari dua kelompok – masing-masing tersisa 4 tim, dan yang berhasil menang akan mau ke babak Final. Selain itu, pertandingan terakhir untuk setiap tim di babak kedua tidak dimainkan secara bersamaan. Argentina sadar bahwa mereka harus menang setidaknya 4 gol saat menghadapi Peru untuk berada diatas Brazil, dan mencapai Final. Selisih gol yang luas akan menjadi satu-satunya penyelamat tim Argentina. Unggul 2-0 lebih dulu membawa Argentina berada diatas angin pada babak pertama, dan Peru seolah-olah tidak bersemangat lagi di babak kedua. Pasca pertandingan selesai, rumor menyebar bahwa Peru telah disogok untuk membantu Argentina menang besar. Namun hal ini tidak pernah terbukti, tetapi kontroversi ini dianggap tidak adil bagi warga Brazil yang membuat mereka kalah dari kompetisi tersebut. Pada akhirnya, skor 6-0 pun menyelimuti pertandingan Argentina dengan Peru.

Jerman Barat dan Austria berkonspirasi menghadapi Aljazair (Jerman Barat vs Austria – 1982)

Pertandingan babak penyisihan grup antara Jerman Barat dan Austria di Piala Dunia 1982 (Spanyol) menjadi alasan bahwa semua pertandingan terakhir dari babak penyisihan grup dimainkan secara bersamaan sejak saat itu. Ketika kedua tim saling berhadapan, ada beberapa kemungkinan yang menentukan apakah Jerman Barat, Austria atau Aljazair yang akan tersingkir. Kemenangan Jerman dengan melesakkan tiga gol atau lebih akan menyingkirkan Austria. Austria hanya perlu meraih hasil imbang atau menang atas Jerman Barat dimana akan mengamankan posisinya. Tetapi kemenangan Jerman Barat dengan mengantongi satu atau dua gol akan menyingkirkan Aljazair.

Peluit ditiup dan pertandingan dimulai serta salah seorang pemain Jerman Barat berhasil mencetak gol saat pertandingan baru berjalan 10 menit. Setelah itu, kedua belah pihak justru bermain-main di sekitar lapangan, tidak melakukan penyerangan dan sengaja untuk tidak mencetak gol. Selama pertandingan itu berlansung, para fans Aljazair yang marah mulai melambaikan uang kertas di tribun untuk menunjukkan bahwa telah terjadi masalah. Saat skor akhir menjadi 1-0 yang menyingkirkan Aljazair, mereka mengajukan keluhannya kepada FIFA. Namun, hasil pertandingan telah ditetapkan, dan sebenarnya jelas apa yang terjadi disini.

Zidane menyundul dada Materazzi (Prancis vs Italia – 2006)

Peforma Zinedine Zidane memuncak pada ajang Piala Dunia 2006 (Jerman) setelah hampir saja membawa Prancis unggul di final Piala Dunia ini. Setelah mencetak gol pembuka yang luar biasa dengan pinalti yang memukau, Zidane hampir mencetak gol kedua di babak pertama, namun sundulannya mampu ditepis oleh kiper Italia – Gianluigi Buffon.

Zidane kemudian meninggalkan lapangan dengan status “pahlawan ke pecundang” setelah dia diusir pada menit 110 karena menyundul dada salah seorang pemain Italia – Marco Materazzi. Dia meninggalkan 10 rekannya selama 10 menit terakhir. Zidane bahkan tidak ikut dalam drama adu pinalti yang dimenangkan oleh tim Italia dengan skor 5-3.

Akhirnya kasusnya terungkap saat Zidane diwawancara. Ia mengaku bahwa Marco Materazzi telah menghina ibu dan adik perempuan Zidane yang memicu kemarahannya. Pada tahun 2010, Zidane mengatakan bahwa ia memilih “lebih baik mati daripada minta maaf” kepada Materazzi untuk kasus sundulannya di ajang final Piala Dunia 2006.

Wasit membantu Korea Selatan mengalahkan Italia (Italia vs Korea Selatan – 2002)

Kita masuk ke ajang Piala Dunia 2002, Korea Selatan (yang merupakan salah satu dari tuan rumah dalam ajang ini), mempersiapkan diri untuk akhirnya maju keluar dari babak penyisihan grup untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka – namun Piala Dunia yang mereka geluti akan selalu dibayangi oleh keputusan wasit yang kontroversial – terutama dalam pertandingan melawan Italia. Di babak 16 besar pada tahun 2002, Korsel berhasil mencetak gol mengejutkan di gawang Italia – berkat bantuan wasit asal Ekuador, Byron Moreno yang tampaknya sangat mendukung tuan rumah untuk memastikan langkahnya maju – menganulir gol yang dilesakkan Italia ke gawang Korsel dalam sesi perpanjangan waktu dan secara mengejutkan mengeluarkan Francesco Totti keluar lapangan karena diduga melakukan diving.

Sebagai hasilnya, Korsel menang dengan skor 2-1 atas gol emas dari Ahn Jung-Hwan. Kemudian di perempatfinal, Korsel sekali lagi mendapatkan keuntungan dari keraguan wasit asal Mesir, Gamar Al-Ghandour yang menganulir dua gol Spanyol. Korsel menang 5-3 melalui sesi adu pinalti untuk mencapai babak semifinal.

Tak lama kemudian, FIFA memaksa kedua wasit untuk pensiun. Moreno dituduh telah melakukan pengaturan pertandingan dan Ghandour terbukti telah menerima satu unit mobil baru karena membantu Korsel untuk maju ke babak semifinal. Untungnya, keputusan ini tidak menjadi sorotan dalam pertandingan Korsel kontra Jerman dimana tuan rumah saat itu ditekuk 0-1 oleh tim Der Panser.

“Tangan Tuhan” Diego Maradona (Argentina vs Inggris – 1986)

Diego Maradona masih bertahan sebagai salah satu pesepak bola paling kontroversial dalam sejarah olahraga yang satu ini. Sang legenda memberikan dampak besar dalam sejarah Piala Dunia, dan dia memiliki salah satu momen palin berkesan di ajang terbesar ini.

Pada Piala Dunia 1986 (Meksiko), Argentina menghadapi Inggris di perempatfinal. Enam menit memasuki babak kedua, bola masuk ke dalam kotak jantung pertahanan Inggris dan kiper Peter Shilton bersama Diego Maradona melompat untuk meraih bola seolah saling menantang satu sama lain. Shilton jelas lebih tinggi 8 inchi. Tetapi entah bagaimana, Maradona menjadi “lebih tinggi” daripada Shilton sejenak, memenangkan duel di udara dan mencetak gol. Argentina akhirnya menang dengan skor 2-1, dan masuk ke final, serta berhasil mengalahkan Jerman Barat dengan skor 3-2.

Saat ditanya tentang gol-nya itu, Maradona mengatakan bahwa dirinya berhasil mencetak gol karena “un poco con la cabeza de Maradona y otro poco con la mano de Dios”. Itu berarti, “sedikit bantuan dengan kepala Maradona dan sedikit bantuan dengan tangan Tuhan”. Bukti jelas dapat dilihat dari fotonya, kepala Maradona bahkan tidak menyentuh bola sebelum terjadinya gol.

Kalian bisa ikut berpartisipasi dalam pertandinga piala dunia 2019 dengan memasang taruhan bola anda pada piala dunia 2019 ini. Jika anda tertarik untuk melakukan taruhan judi pada piala dunia 2019, silahkan daftar sbobet terlebih dahulu melalui situs judi bola / agen sbobet terpercaya dari sekarang, agar pada saat pertandingan berlangsung, anda bisa langsung memasang team kesayangan anda.

Disaat menunggu waktu pertandingan mulai, binggung mau ngapain? boleh saja mencoba untuk pasang taruhan judi sabung ayam online melalui ini.